Filosofi Suwidak, Seket, Selawe

Posted by on Oct 26, 2021 in Artikel

Untuk bahasan kita kali ini, mungkin memang akan lebih mudah dipahami, bagi Anda yang paham bahasa Jawa. Tetapi kalaupun Anda tidak berbahasa Jawa, tidak salahnya juga untuk disimak. Karena filosofi itu sesuatu yang bisa diterima semua umat.

Kali ini, kita akan membahas seputar anomaly penyebutan angka 60, 50 dan 25. Atau yang dalam Bahasa Jawa kita sebut sewidak, skeet, dan selawe. Dalam Bahasa Jawa, puluhan disebut dengan puluh. Dua puluh ya dikatakan, rong puluh. Tiga puluh dikatakan, telung puluh. Empat puluh dikatakan, patang puluh. Tetapi anehnya, tidak demikian dengan angka lima puluh. Dan enam puluh.

Kita tidak menyebutnya limang puluh, atau nem puluh. Kita menyebutnya seket, untuk lima puluh, dan sewidak, untuk enam puluh.
Sewidak, itu ada kepanjangannya. Sejatine wis wayahe tindak. Dalam Bahasa Indonesia berarti, sesungguhnya sudah saatnya untuk pergi.

Sebab diusia 60 inilah, manusia diharapkan untuk sudah mempersiapkan dirinya. Mencari bekal kehidupan, dan meninggalkan kebiasaan buruk yang sudah-sudah. Inilah waktunya mencari jalan terang menuju Tuhan.

Angka lima puluh pun begitu. Seket. Senengane kethunan. Kethu, adalah penutup kepala. Sebab diusia inilah, sebagian orang akan mulai menua, beruban, dan botak. Sehingga mulai menggunakan penutup kepala.


Baca Juga :


Inilah juga masanya bagi kita, untuk meningkatkan kemawasan diri. Meninggalkan pola kehidupan masa muda secara perlahan, dan belajar untuk lebih mencintai keluarga, dan mempererat hubungan sesama masyarakat.

Sedangkan angka dua puluh lima, dalam bahasa Jawa disebut selawe. Padahal angka lainnya, yang bernilai diatas dua puluh, disebut likur. Dua puluh satu, disebutnya selikur. Dua puluh dua, disebutnya rolikur. Begitu seterusnya hingga 29, yang disebut sanga likur.

Pengecualian hanya untuk angka dua lima, yang disebut selawe. Selawe, dapat dipanjangkan menjadi ‘seneng-senenge lanang lan wedok’. Artinya ‘suka-sukanya lelaki dan perempuan’. Sebab di usia 25 inilah, baik perempuan maupun lelaki akan mulai dewasa. Serta siap untuk membina rumah tangga.

Angka-angka ini, di jaman sekarang, mungkin sudah tidak seberapa tepat lagi. Sebab dengan berbagai kemajuan di bidang kesehatan, harapan hidup kita sekarang sudah lebih panjang. Rara-rata usia kematian di negara kita, sudah diatas 70. Bukan lagi 60.

Demikian halnya dengan usia pernikahan. Semakin hari semakin banyak pasangan yang memilih, untuk mematangkan dirinya dulu sebelum berumah tangga. Sebab tidak seperti dulu, jaman sekarang pendidikan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Belum lagi masa yang diperlukan untuk memapankan diri di dunia kerja.

Tapi setidaknya ini bisa menjadi wawasan tersendiri bagi kita, terutama Anda yang berbahasa Jawa, bahwa penamaan angka ini ada maksudnya juga.