Mengapa Semua Orang Menjauh Ketika Kita Susah?

Kali ini kita akan membahas, tentang mengapa semua orang, termasuk kawan maupun saudara, cenderung menjauh ketika kita dilanda kesusahan. Padahal ketika kita sedang senang dan berkecukupan, mereka mendekat. Ketika mereka butuh bantuan, kita membantu. Tetapi ketika tiba saatnya kita yang butuh bantuan, mereka semua menghilang. Bahkan menjauh layaknya orang yang tidak saling kenal. Anda pasti pernah menjumpai yang semacam ini, atau bahkan pernah mengalami sendiri. Secara umum, ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan seseorang, menjauh dari kehidupan kita. Misalnya karena kita hanya ingin didengar, tapi tidak pernah mau mendengarkan. Atau karena kita terlalu sering mengkritik. Mengeluh. Mementingkan diri sendiri. Selalu menyalahkan orang lain, tapi tidak pernah mau disalahkan. Hal-hal semacam ini, baiknya kita jadikan bahan evaluasi. Demi introspeksi, agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tetapi ada kalanya, orang menjauh bukan karena penyebab-penyebab tersebut. Ada kalanya orang menjauh, semata-mata karena kita sedang susah. Bahkan orang yang dulunya pernah kita bantu sekalipun, ketika kita membutuhkan bantuan, tiba-tiba lenyap tidak berbekas. Dicari tidak ada, dimintai tolong tidak bisa. Mengapa demikian? Hal ini terjadi, bukan semata-mata karena mereka membenci orang susah. Juga bukan semata-mata karena mereka membenci Anda. Tetapi lebih karena mereka takut, akan ikut terseret dalam kesusahan Anda tersebut. Baca Juga : Mitos Burung Kedasih, Benarkah Burung Pembawa Kematian? Macam-Macam Benda Gaib Berdasarkan Sifat Kegaibannya Filosofi Suwidak, Seket, Selawe Katakanlah Anda meminta bantuan, kemudian permintaan Anda ini ditolak. Kemungkinannya ada dua. Entah orang ini memang tidak memiliki kemampuan untuk membantu, atau memang orang ini bukan kawan yang sebaik perkiraan Anda. Tidak perlu menjadikan rasa kecewa. Jadikan pengalaman dan pelajaran. Setidaknya dengan begini Tuhan telah menunjukkan, mana kawan yang benar-benar baik dan mana yang bukan. Memang di dunia ini, tidak semua orang akan tetap bersama kita, baik dalam susah maupun senang. Kerap kali, yang menjadikan sakit hati, adalah karena orang-orang yang menjauh ini dulunya pernah Anda tolong. Pernah Anda bantu ketika mengalami kesusahan. Tetapi menjauh ketika Anda tidak lagi dibutuhkan. Ini pun tidak perlu disesali. Jangan lantas merasa menyesal pernah menolong orang ini. Sebab bantuan Anda tersebut, dulu Anda lakukan secara ikhlas. Dan Tuhan tidak akan pernah lupa pada kebaikan yang Anda perbuat. Akan tetap ada balasannya, akan tetap ada bantuan untuk Anda, meskipun bukan dari orang ini. Bukan dari orang yang pernah Anda bantu sebelumnya. Yang penting kita selalu ingat, bahwa bila tiba saatnya kita berada di atas, kita harus selalu berupaya untuk memberikan manfaat. Dan bila tiba saatnya kita berada di bawah, hargailah betul-betul semua orang yang tetap bertahan di sisi kita. Atas seizin Tuhan, masalah apapun yang saat ini Anda hadapi, semoga dapat terselesaikan dengan segera. Sampai disini, kurang lebihnya demikianlah yang dapat saya sampaikan, tentang mengapa semua orang terasa menjauh, ketika kita sedang susah. Tidak hanya kawan, tetapi juga keluarga. Bagi Anda yang mungkin pernah mengalami, dan ingin berbagi tentang ini, boleh tuliskan pengalaman Anda tersebut di kolom komentar. Semoga pengalaman Anda dapat menjadi pembelajaran bagi yang...

Read More »

Mitos Burung Kedasih, Benarkah Burung Pembawa Kematian?

Sebagian dari Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada burung yang keberadaan atau suara kicaunya dianggap sebagai pertanda kematian. Dan sebagian dari Anda yang pernah mendengar soal mitos semacam ini, pasti akan langsung teringat pada burung gagak. Tetapi tahukah Anda, bahwa adalah Burung Kedasih, yang dianggap sebagai burung pertanda kematian? Kalau di daerah Jawa, maka burung kedasih ini disebut juga sebagai Emprit Gantil. Karakter suaranya memang terbilang menyeramkan, bagi sebagian orang. Dikatakan, bahwa jika burung ini berkicau di suatu wilayah, maka itu adalah pertanda, bahwa akan ada orang di sekitar wilayah tersebut, yang akan meninggal dunia. Bila suara kicaunya terdengar dari arah selatan, maka akan ada orang yang meninggal di arah utara. Begitu pula sebaliknya. Sampai-sampai, oleh para penggemar burung, termasuk pantang jika burung kicau yang dipelihara sampai mendengar suara burung kedasih. Sebab dikhawatirkan, burung kicau ini akan menirukan suara burung kedasih tadi. Alhasil bakal anjloklah nilai burung kicau tersebut, karena dianggap bersuara yang membawa malapetaka. Tentang benar tidaknya bahwa kicauan burung kedasih merupakan pertanda kematian, sekali saya tekankan, seperti biasa, bahwasannya maut itu di tangan Tuhan. Pada dasarnya semua yang hidup akan mati, dan berpulangnya ini adalah atas kehendak Tuhan pula. Baca Juga : Macam-Macam Benda Gaib Berdasarkan Sifat Kegaibannya Filosofi Suwidak, Seket, Selawe Jimat Saya Hilang, Apakah Ada Resikonya? Soal suaranya yang dianggap membawa pertanda kematian ini, bukanlah satu-satunya hal yang dapat kita catat dari burung kedasih. Terlepas dari kicauannya yang oleh sebagian orang dianggap menyeramkan, kedasih juga dianggap sebagai si ratu tega. Karena burung yang satu ini terkenal berkelakuan kurang baik. Bila umumnya burung akan membangun sarang sendiri, untuk menetaskan telur dan merawat anakannya, maka tidak demikian dengan burung kedasih. Ketika tiba saatnya bertelur, ia justru akan mencari sarang burung lain, untuk dititipi, dan setelah itu ditinggal pergi. Jadi si burung pemilik sarang akan berpikir bahwa telur itu adalah miliknya. Bahkan jika di sarang tersebut tadinya sudah ada telur burung, maka anakan kedasih tadi, setelah menetas, akan mencakar dan menendang-nendang telur burung pemilik sarang, hingga keluar dari sarang tersebut dan terjatuh. Ibaratnya, sudah menumpang malah membunuh anak kandung dari orang yang ia mintai tumpangan. Kelak pun, setelah anakan kedasih ini diasuh dan dewasa, ia akan bertindak seperti itu pula. Menetaskan telurnya di sarang orang, lalu meninggalkannya pergi begitu saja. Setidaknya dari burung ini, kita dapat belajar untuk tidak berbuat semacam itu. Seputar burung kedasih yang dipercaya membawa pertanda kematian ini, saya cukupkan...

Read More »

Macam-Macam Benda Gaib Berdasarkan Sifat Kegaibannya

Sebelumnya, kita sudah membahas tentang macam-macam benda gaib, berdasarkan asal usul kegaibannya. Maka kali ini, untuk melengkapi bahasan tersebut, kita akan membahas seputar jenis-jenis, atau macam-macam benda gaib, berdasarkan sifat kegaibannya. Langsung saja, bila kita lihat atau kita bedakan berdasarkan sifat kegaibannya, maka benda gaib bisa digolongkan ke dalam tiga jenis. Yang pertama, adalah benda gaib yang kegaibannya bersifat dominan fisik, atau kanuragan. Yang kedua, adalah benda gaib yang kegaibannya berupa pancaran energi atau aura. Sedangkan yang ketiga, adalah benda gaib yang kegaibannya dimanfaatkan untuk keperluan khusus. Untuk jenis yang pertama, yaitu benda gaib yang kegaibannya dominan fisik, atau kanuragan, contohnya adalah Mustika Merah Delima, Wesi Kuning, dan berbagai macam jimat yang berkhasiat anti cukur, anti bacok, dan lain sebagainya. Jadi golongan ini, adalah golongan benda gaib yang kegaibannya bisa dirasakan secara fisik. Entah itu untuk kekuatan perlindungan diri, kesaktian, kekebalan, maupun pengobatan. Baca Juga : Filosofi Suwidak, Seket, Selawe Jimat Saya Hilang, Apakah Ada Resikonya? Apa Bedanya Pesugihan dengan Pelarisan? Kemudian untuk jenis yang kedua, yaitu benda gaib yang kegaibannya dominan berupa pancaran energi, atau pancaran aura gaib, contohnya adalah Mustika Kendit, Mustika Kecubung, dan benda-benda gaib lain yang kegaibannya bisa dirasakan secara psikologis. Lewat rasa. Jadi golongan kedua ini, adalah golongan benda gaib yang kegaibannya bisa dirasakan untuk pengasihan, pelarisan, kewibawaan, dan lain sebagainya. Sedangkan jenis yang ketiga, yaitu benda gaib yang kegaibannya dimanfaatkan untuk keperluan khusus. Contoh keperluan khusus ini adalah untuk membuat pagar gaib, pembersihan, ruwatan, penarikan gaib, dan lain sebagainya. Contoh bendanya, ya bisa apa saja. Tetapi yang jelas, untuk jenis atau golongan ketiga ini, maka benda gaib yang dimaksud, membutuhkan pengetahuan atau keilmuan khusus untuk dapat memanfaatkannya. Benda gaib semacam itulah yang masuk dalam jenis ketiga. Terlepas dari sifat atau karakter gaibnya ini, tentu saja benda bertuah manapun akan tetap ada cocok cocokannya. Pengaruhnya bagi si pemilik, akan tetap dipengaruhi oleh kecocokan benda gaib tadi dengan si pemilik tersebut. Serta kemampuan si pemilik dalam merawat benda gaibnya. Secara umum demikian. Harapan saya, wawasan semacam ini akan menjadi pengetahuan tersendiri, bagi Anda yang kebetulan memiliki benda gaib, atau tertarik untuk memiliki benda gaib. Agar ada pertimbangan...

Read More »

Filosofi Suwidak, Seket, Selawe

Untuk bahasan kita kali ini, mungkin memang akan lebih mudah dipahami, bagi Anda yang paham bahasa Jawa. Tetapi kalaupun Anda tidak berbahasa Jawa, tidak salahnya juga untuk disimak. Karena filosofi itu sesuatu yang bisa diterima semua umat. Kali ini, kita akan membahas seputar anomaly penyebutan angka 60, 50 dan 25. Atau yang dalam Bahasa Jawa kita sebut sewidak, skeet, dan selawe. Dalam Bahasa Jawa, puluhan disebut dengan puluh. Dua puluh ya dikatakan, rong puluh. Tiga puluh dikatakan, telung puluh. Empat puluh dikatakan, patang puluh. Tetapi anehnya, tidak demikian dengan angka lima puluh. Dan enam puluh. Kita tidak menyebutnya limang puluh, atau nem puluh. Kita menyebutnya seket, untuk lima puluh, dan sewidak, untuk enam puluh. Sewidak, itu ada kepanjangannya. Sejatine wis wayahe tindak. Dalam Bahasa Indonesia berarti, sesungguhnya sudah saatnya untuk pergi. Sebab diusia 60 inilah, manusia diharapkan untuk sudah mempersiapkan dirinya. Mencari bekal kehidupan, dan meninggalkan kebiasaan buruk yang sudah-sudah. Inilah waktunya mencari jalan terang menuju Tuhan. Angka lima puluh pun begitu. Seket. Senengane kethunan. Kethu, adalah penutup kepala. Sebab diusia inilah, sebagian orang akan mulai menua, beruban, dan botak. Sehingga mulai menggunakan penutup kepala. Baca Juga : Jimat Saya Hilang, Apakah Ada Resikonya? Apa Bedanya Pesugihan dengan Pelarisan? Hewan Yang Dipercaya Membawa Sial Inilah juga masanya bagi kita, untuk meningkatkan kemawasan diri. Meninggalkan pola kehidupan masa muda secara perlahan, dan belajar untuk lebih mencintai keluarga, dan mempererat hubungan sesama masyarakat. Sedangkan angka dua puluh lima, dalam bahasa Jawa disebut selawe. Padahal angka lainnya, yang bernilai diatas dua puluh, disebut likur. Dua puluh satu, disebutnya selikur. Dua puluh dua, disebutnya rolikur. Begitu seterusnya hingga 29, yang disebut sanga likur. Pengecualian hanya untuk angka dua lima, yang disebut selawe. Selawe, dapat dipanjangkan menjadi ‘seneng-senenge lanang lan wedok’. Artinya ‘suka-sukanya lelaki dan perempuan’. Sebab di usia 25 inilah, baik perempuan maupun lelaki akan mulai dewasa. Serta siap untuk membina rumah tangga. Angka-angka ini, di jaman sekarang, mungkin sudah tidak seberapa tepat lagi. Sebab dengan berbagai kemajuan di bidang kesehatan, harapan hidup kita sekarang sudah lebih panjang. Rara-rata usia kematian di negara kita, sudah diatas 70. Bukan lagi 60. Demikian halnya dengan usia pernikahan. Semakin hari semakin banyak pasangan yang memilih, untuk mematangkan dirinya dulu sebelum berumah tangga. Sebab tidak seperti dulu, jaman sekarang pendidikan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Belum lagi masa yang diperlukan untuk memapankan diri di dunia kerja. Tapi setidaknya ini bisa menjadi wawasan tersendiri bagi kita, terutama Anda yang berbahasa Jawa, bahwa penamaan angka ini ada maksudnya...

Read More »

Jimat Saya Hilang, Apakah Ada Resikonya?

Kali ini, saya ingin menjawab salah satu pertanyaan, yang cukup sering saya terima, kaitannya dengan penggunaan benda bertuah. Yaitu apakah ada resikonya, bila benda bertuah atau pegangan yang kita pakai ini, tanpa sengaja hilang? Benda bertuah, atau pegangan spiritual, wujudnya bisa macam-macam. Entah itu berupa batu mustika, jimat kulit, sabuk rajah, pusaka kuningan, atau bahkan berupa minyak. Tidak sedikit dari pegangan ini, bentuknya terbilang kecil. Hanya sebesar batu cincin. Sehingga rawan hilang. Apalagi kita, sebagai manusia, memang adalah tempatnya lupa. Kadang tidak ingat diletakkan di mana. Atau juga kadang disimpan di saku celana, tapi ketika dicari tidak ada. Kebanyakan orang, ketika mengalami hal ini, langsung panik. Dicari kesana kemari sambil kebingungan. Sampai-sampai seluruh kamarnya dibongkar bolak balik seperti kapal pecah. Pikirnya tentu saja, takut pamali. Khawatir jika hilangnya benda bertuah ini, akan mendatangkan akibat buruk bagi dirinya. Apakah benar seperti itu? Pertanyaan ini, tentu saja hanya dapat saya jawab, kaitannya dengan sarana spiritual yang memang saya sediakan. Bukan yang berasal dari pihak lain, apalagi barang temuan. Semua sarana spiritual dari saya, termasuk yang berwujud jimat maupun batu mustika, tidak memiliki resiko apapun. Jadi sekalipun misalnya tanpa sengaja hilang, hal ini tidak akan lantas menjadikan keburukan bagi pemakainya. Baca Juga : Apa Bedanya Pesugihan dengan Pelarisan? Hewan Yang Dipercaya Membawa Sial Fungsinya Wirid, Mantra & Doa Dalam Ilmu Spiritual Tidak juga berarti bahwa tuahnya akan seketika hilang. Sebab bagaimanapun juga, sarana ini tadinya sudah diritualkan dulu, sesuai nama dan tanggal lahir pemakainya. Dan sudah ada proses aktivasi, yang menyelaraskan energi benda, dengan energi pemakai. Jadi sekalipun misalnya, Anda lupa dimana meletakkan jimat Anda, dan kemudian dicari masih tidak ketemu, Anda tetap bisa membaca doanya seperti biasa. Dengan atau tanpa barangnya. Memakai pegangan spiritual itu cocok cocokan, dan jika memang masih berjodoh, biasanya akan ketemu lagi. Meskipun ketemunya tidak pada hari itu juga, atau kadang berjarak beberapa hari. Kalaupun sampai beberapa lama, masih belum ketemu juga, Anda pun tidak perlu berkecil hati. Anda masih bisa memesan kembali sarana spiritual yang sama sebagai gantinya. Dan hal ini tidak akan lantas menyebabkan berkurangnya energi sarana spiritual tersebut. Energinya akan tetap sama. Tetap bisa Anda pergunakan kembali seperti biasa. Nah, kurang lebihnya seperti itulah, jawaban saya seputar ada tidaknya resiko, bila pegangan spiritual kita, tanpa sengaja hilang. Semoga cukup jelas dan dapat memberikan...

Read More »