Apa itu Jimat Dari Sudut Pandang Orang Jawa

Apa itu Jimat Dari Sudut Pandang Orang Jawa

Posted by on Sep 28, 2020 in Artikel

Anda pasti pernah mendengar istilah jimat. Atau malah pernah melihat. Atau bahkan pernah memiliki, atau masih memiliki jimat.

Itulah bahasan kita kali ini, yaitu seputar jimat. Kita akan membahas seputar apa itu jimat, dari sudut pandang masyarakat Jawa tradisional.

Kalau kata orang Jawa, istilah jimat itu bisa dipanjangkan menjadi ‘siji sing dirumat’. Artinya adalah satu yang dirawat, atau dipelihara. Semacam pegangan, begitu. Masyarakat Jawa sendiri, menganggap jimat, sebagai suatu benda yang mengandung daya magis.

Sebuah jimat, dipakai oleh pemiliknya untuk tujuan yang beda-beda. Entah itu daya tahan, perlindungan, atau keberuntungan. Jadi keberadaan jimat ini sudah ada, dan sudah dipercaya oleh masyarakat Jawa, sejak jaman dulu sekali. Terutama untuk melindungi diri dari ketidakberuntungan dan hal-hal buruk.

Kalau jaman sekarang, manfaatnya jadi semakin meluas lagi. Bukan hanya soal selamat tidak selamat, bukan hanya soal perlindungan dari mala petaka. Banyak orang menggunakan jimat untuk tujuan lain, termasuk untuk pengasihan, dan juga pelarisan.

Agar lebih dikasihi orang. Dan lebih laris jualannya. Jimat, sebagai benda bertuah yang disakralkan, kemudian dipercaya mampu membantu memperlancar berbagai macam permasalahan hidup. Dengan jimat inilah, maka akan muncul keberanian atau rasa percaya diri.

Tentu saja, dari sudut pandang keyakinan, maka tuah suatu jimat, tetap berasal dari Tuhan. Jadi bukan jimatnya yang menjadikan orang aman. Bukan jimatnya yang menjadikan orang dikasihi.

Adalah berkah dan ridho Tuhan yang menyebabkan itu semua, jimatnya hanya berfungsi sebagai perantara. Tidak ubahnya seperti kita naik sepeda. Bedanya dengan jalan kaki, ya sekedar lebih cepat saja.

Secara tradisional, pemilikan jimat melibatkan proses yang panjang. Atau setidaknya, dulu seperti itu. Untuk memiliki sebuah jimat, maka orang harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Misalnya dengan melakukan puasa, ritual, semedi, dan menyiapkan sesaji.

Jadi orang yang memiliki jimat, tidak tergantung pada statusnya. Tetapi tergantung pada kesungguhannya dalam menjalankan persyaratan tertentu.

Sampai sekarang, keberadaan jimat masih dipercaya banyak orang. Dan bisa dianggap sebagai salah satu titik kenikmatan batin, bagi orang-orang yang meyakininya. Sebab keberadaan jimat akan mendatangkan rasa aman dan tenang bagi orang tersebut.

Kepercayaan masyarakat terhadap jimat, tidak lantas menunjukkan bahwa kita memiliki akal sempit dan budaya yang terbelakang. Justru, hal ini menunjukkan bahwa budaya dapat diawetkan secara turun-temurun, tanpa mencederai keyakinan yang kita anut.

Kurang lebih seperti itulah, cara orang Jawa memandang jimat. Menurut Anda sendiri, bagaimana? Boleh tuliskan pendapat Anda di kolom komentar.